PT. CITRA LODOK LESTARI
   Jadwal MotoGP Jerez, Spanyol 2026   
25 April 2026
HEADLINE - MOBIL
Lonjakan Harga Minyak, Mobil Listrik Laris, BYD Diuntungkan


Permintaan kendaraan listrik di sejumlah negara Asia melonjak tajam seiring kenaikan harga minyak global. Di sebuah dealer BYD di kawasan distrik keuangan Manila, lonjakan minat konsumen begitu terasa. Tenaga penjualan setempat, Matthew Dominique Poh, bahkan mengaku pesanan dalam dua minggu terakhir sudah setara dengan satu bulan penjualan. "Pelanggan mengganti unit mereka dengan kendaraan listrik karena kenaikan harga minyak," kata Poh, yang telah bekerja selama tujuh bulan di dealer tersebut.

Fenomena serupa terjadi di Hanoi, Vietnam. Nguyen Hoang Tu Anh mengungkapkan showroom VinFast miliknya mengalami lonjakan kunjungan hingga empat kali lipat sejak konflik Iran pecah. Kondisi ini mendorong penambahan tenaga penjualan, sekaligus menghasilkan penjualan 250 unit mobil listrik hanya dalam tiga pekan.

Melansir Japan Times, beberapa waktu yang lalu, angka tersebut setara lebih dari 80 unit per minggu, dua kali lipat dibanding rata-rata penjualan sepanjang 2025. Minat beralih ke kendaraan listrik juga datang dari konsumen. "Beralih ke kendaraan listrik akan membantu kami menghemat uang secara signifikan," ujar Lai The Manh Linh, karyawan perusahaan telekomunikasi berusia 41 tahun.


Ia menukar Toyota Vios berbahan bakar bensin dengan VinFast 5 listrik untuk menunjang mobilitas harian sejauh 60 hingga 70 kilometer. Meski data penjualan resmi Maret belum dirilis, indikasi awal menunjukkan produsen kendaraan listrik Asia seperti BYD dari China dan VinFast dari Vietnam mulai memetik keuntungan dari lonjakan harga minyak mentah.

Dampak ini terasa kuat di kawasan Asia Pasifik, yang selama ini menyerap sekitar 80 persen pasokan minyak yang melintasi Selat Hormuz sebelum jalur tersebut terganggu akibat konflik. “Harga minyak yang lebih tinggi selalu membantu transisi ke kendaraan listrik.Hal itu menciptakan insentif ekonomi untuk mempercepat transisi hijau," ujar Kepala Ekonom Bank Pembangunan Asia, Albert Park.

Menurut BloombergNEF, adopsi kendaraan listrik secara global telah membantu menekan konsumsi minyak hingga setara 2,3 juta barel per hari pada tahun lalu. Namun, analis Bloomberg Intelligence Joanna Chen menilai lonjakan minat ini belum tentu bertahan tanpa dukungan infrastruktur yang memadai.

"Keterjangkauan harga dan pengisian daya selalu menjadi dua faktor terbesar yang menghambat adopsi kendaraan listrik," katanya. Ia menambahkan bahwa biaya kepemilikan berpotensi menjadi lebih seimbang jika harga minyak terus naik.

Sebelum gejolak harga minyak, penetrasi kendaraan listrik di Asia sebenarnya sudah menunjukkan tren positif, meski belum merata. Di China, mobil listrik dan plug-in hybrid kini menyumbang lebih dari separuh total penjualan kendaraan, didorong kebijakan Pemerintah yang agresif dalam mengembangkan industri energi baru.

Sementara itu, negara-negara Asia Tenggara mencatat tingkat adopsi sekitar 40 persen, melampaui Inggris dan Eropa, menurut lembaga think tank Ember. “Jika harga minyak tetap pada level saat ini atau naik lebih lanjut, kami memperkirakan peningkatan signifikan dalam permintaan EV,” kata Surapong Paisitpatnapong dari Federasi Industri Thailand.

Sebelumnya, pihaknya sempat pesimistis terhadap permintaan EV pada 2026 akibat berkurangnya subsidi Pemerintah. Sejumlah negara bahkan mulai mengambil langkah kebijakan. Pemerintah Laos, misalnya, memangkas biaya pendaftaran dan layanan kendaraan listrik hingga 30 persen, sekaligus menaikkan biaya serupa untuk mobil berbahan bakar bensin dalam upaya merespons lonjakan harga energi.

Sebagai produsen kendaraan listrik terbesar di dunia, China diperkirakan menjadi pihak yang paling diuntungkan. Data Asosiasi Produsen Otomotif China menunjukkan ekspor mobil listrik dan plug-in hybrid pada dua bulan pertama tahun ini telah melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu, bahkan sebelum konflik terjadi.

Selain merek asal China, pemain global seperti Hyundai Motor, Nissan Motor, dan Tesla juga berada dalam posisi strategis untuk memanfaatkan tren ini. Namun, sejumlah produsen otomotif konvensional justru tertinggal. General Motors, Honda Motor, dan Ford dilaporkan mulai mengurangi ambisi elektrifikasi mereka, salah satunya akibat perubahan kebijakan di Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump yang mencabut berbagai insentif untuk kendaraan listrik.

Sumber : voi.id
viewed :: 157
Pasang banner ? hubungi : widipriono@gmail.com

Berita Terkait Lainnya :
Copyright 2013 motormobile.net